Tampilkan postingan dengan label Penghilang Penat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghilang Penat. Tampilkan semua postingan

24 April 2009

Asongan


walaupun sekedar asongan...
berdagang tidak seberapa di stasiun kereta
tapi tetap saja di kejar-kejar kamtib....
ada dianggap sampah.....
tidak ada serasa gersang.....
diantara yang menolak, pasti ada yang menerima....
nikmatnya jika ada yang membeli......
dapat untuk bertahan di kemudian hari......

03 Januari 2009

Jukung




Masyarakat Banjarmasin tak bisa dipisahkan dari berbagai aktivitas kehidupan air sungai dan kelotok, kelotok adalah perahu kecil dengan mesin tempel. Kendaraan tersebut menjadi kebutuhan utama, sarana transportasi di sepanjang sungai di Banjarmasin. Masyarakat lokal sering menyebut perahu bermesin tempel ini kelotok dan kapal tanpa mesin disebut Jukung.
Banyaknya masyarakat pengguna kelotok dan jukung, menjadikannya peluang bisnis tersendiri, dan persaingan antar pengusaha kelotok pun menjadi makin ketat, karena telah tergusur dengan kendaraan darat, yang populasinya semakin meningkat.



tetapi dengan mencoba transportasi sungai ini akan terasa menyenangkan, jika sekali-kali Anda mengunjungi Banjarmasin cobalah dan rasakan naik jukung ini, disamping murah para pengemudinya juga sangat ramah-ramah.
Ada kejadian kecil sewaktu saya naik jukung dan mengalami kerusakan mesin jukung terpaksa berhenti di pinggir sungai Barito, dimana pengemudi jukung memperbaiki kapalnya banyak rekan-rekan mereka sesama pemilik jukung yang dengan sukarela menolong memperbaiki jukung tersebut hingga larut malam.



Kamera infrared: d70
Lokasi: Banjarmasin

18 Desember 2008

Merapi dari Selo....



Kecamatan Selo berada di tengah-tengah dua gunung, yakni Merapi dan Merbabu. Keindahan akan terasa ketika lewat jalur dari Solo-Boyolali memasuki Kecamatan Cepogo, sebelum Selo. Jalan naik yang berkelok-kelok dengan pemandangan di dua sisi sangat memesona. Keindahan akan makin tampak ketika memasuki Kecamatan Selo. Jalan menikung tajam dengan aspal halus membuat kita makin mengagumi betapaindah alam ciptaan Tuhan.



Kamera: d70
Lokasi Selo Boyolali

21 November 2008

Sekatenan







perayaan sekaten dari tahun ke tahun pada dasarnya terdapat tiga pokok inti yang antara lain:
1. Dibunyikannya dua perangkat gamelan ( Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang.

2. Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat.

3. Pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai upacara puncak sekaten.
Kegiatan pendukung event tersebut adalah diselenggarakannya Pasar Malem Perayaan Sekaten selama 39 hari, event inilah yang menjadi daya tarik bagi masyarakat Jogja maupun luar Jogja.

Selain itu ada tiga unsur penting dalam tradisi sekaten Ngayogyakarto
1. Pasar malam sekaten
2. Upacara perayaan sekaten
3. Garebek sekaten

GAMELAN

Tradisi Gamelan Sekaten Menyambut Maulid
Keraton Yogyakarta selama sepekan sebelum peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW akan menggelar tradisi menabuh gamelan sekaten di pelataran Masjid Gede Kauman, Keraton Yogyakarta. Pada tanggal 5 bulan Maulud yang merupakan hari pertama perayaan Sekaten diawali pada tengah malam dengan sebuah prosesi abdi dalem yang berjalan dalam dua baris dengan membawa kedua perangkat gamelan pusaka yaitu, Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari tempat penyimpanannya dibangsal Sri Manganti, ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben) dan pada sore harinya mulai dibunyikan di tempat ini. Antara pukul 23.00 hingga pukul 24.00 ke dua perangkat gamelan tersebut dipindahkan kehalaman Masjid Agung Yogyakarta meninggalkan Bangsal Ponconiti dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar, disertai pengawal prajurit Kraton berseragam lengkap. Di masjid agung Kyai Nogowilogo diletakkan di Pagongan Selatan. Kedua set gamelan ini dimainkan secara stimulan sampai tanggal 11 bulan Maulud, saat kedua gamelan tersebut dibawa kembali ke Kraton pada tengahmalam.

Kedua gamelan ini yang ditempatkan di sisi utara dan selatan masjid ditabuh selama 24 jam. Tabuhan dihentikan hanya jika datang waktu salat. Tempo dalam tabuhan gamelan tradisi sekaten ini mengalir lebih lambat seiring tarikan napas para penabuh dan pendengarnya. Gending-gending yang dimainkan ini merupakan karya Sunan Kalijaga salah seorang wali penyebar agama Islam di Jawa sebagai sarana yang komunikatif untuk berdakwah.

Disela- sela pergelaran, kemudian dilakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci dari Kitab Al-Quran. Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat, sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam.

Sambil mendengarkan, warga biasanya mengunyah kinang atau makan nasi gurih serta telur merah, tradisi makan kinang dan nasi gurih ini sebenarnya ungkapan rasa syukur atas terciptanya harmoni dalam masyarakat. Sayangnya, sebagian masyarakat saat ini tidak lagi memahaminya. Malah menjadikan kinang dan nasi gurih sebagai sarana ngalap atau mencari berkah tertentu.
Gamelan Sekaten Dibagi Dua

Tujuh hari menjelang Upacara Grebeg Maulud dan peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW, seperangkat Gamelan Sekaten Kangjeng Kiai Gunturmadu dan Kangjeng Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari kraton ditempatkan di Kagungan Dalem Bangsal Pagongan Masjid Besar. Sejak pagi hingga tengah malam, kedua perangkat gamelan dibunyikan silih berganti, kecuali hari Jumat tidak ditabuh.








Berkaitan dengan peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW inilah, setiap tahun Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta menyelenggarakan Upacara Grebeg. Acara ini sekaligus ungkapan rasa syukur kehadlirat Illahi. Upacara Grebeg diwujudkan dengan rangkaian Upacara Sedekah Sultan, berupa gunungan dan lazim disebut Hajad Dalem Gunungan atau Pareden.

Di masing-masing kraton, baik Yogyakarta maupun Surakarta setiap Grebeg Maulud selalu didahului dengan Upacara Sekaten, selama tujuh hari. Upacara ini merupakan kegiatan Syiar Agama Islam, di mana kegiatannya berupa rangkaian dibunyikannya Kagungan Dalem Gamelan Sekaten diikuti dengan Tableg di Regol Masjid Besar. Upacara Tableg dipimpin Abdidalem Penghulu Kraton.

Gending-gending Sekaten adalah gending pujian kehadlirat Allah SWT dan Shalawat Nabi, serta ajakan untuk menjalankan Syariat Islam secara khusuk. Gending yang ada di Sekaten memiliki makna keagamaan. Gending pertama adalah Gending Rambu, yang diolah para wali dari puji syukur yang berasal dari kata Rabbulngalamin, yang berarti Tuhan yang menguasai segala alam. Dalam perkembangan selanjutnya, gending menjadi banyak. Instrumen pun memiliki makna, seperti gamelan pelog berasal dari kata falakh yang berarti kebahagiaan.Gending-gending yang diperdengarkan berbeda dengan gending-gending Jawa yang ada saat ini.

Nama-nama gending yang biasa dibunyikan tersebut, Yaume, Salatun, Ngayatun, Supiyatun, Dendang Sabenah, Rambu (ciptaan Sultan Bintara), Rangkung (ciptaan Sultan Agung), Lung Gadungpel, Atur-atur, Andong-andong, Rendeng-rendeng, Gliyung, Burung Putih, Orang-aring, Bayem Tur, dan Srundeng Gosong. Semua gending-gending itu dapat dinikmati di Kagungan Dalem Bangsal Pagongan Lor dan Pagongan Kidul, lewat Kagungan Dalem Gamelan Kangjeng Kiai Gunturmadu dan Kangjeng Kiai Nagawilaga yang ditabuh para abdidalem niyaga Kraton Yogyakarta.
Peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad S.A.W.

Nabi Besar Muhammad S.AW. lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari tahun jawa. Di Yogyakarta,biasanya kelahiran Nabi diperingati dengan upacara Grebeg Maulud.Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad. Diselenggarakan pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan yang sama.

Makam Raja-Raja Mataram

Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta.
Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan terkabul.
Tata cara memasuki makam di tempat dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.































Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain :
Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX,
kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede.









Kamera Infrared: d70
Lokasi: Makam Imogiri Raja mataram, Bantul

12 November 2008

Bermain


bebas, lepas,
asyik......
tapi perlu pengawasan orang tua
demi keamanan dan keselamatan



Kamera Ir: d70
Lokasi: Kampungku

10 November 2008

Alamku


Begitu Subur,
Begitu Makmur,
Begitu Indah...
Indonesiaku


Kamera IR: d70
Lokasi: Sayegan

Nongkrong


bebas.....
se'enaknya
suka-suka

yang penting jangan ganggu sekitar



Kamera Ir: d70
Lokasi: selokan Mataram

04 November 2008

Komidi Putar


Permainan untuk anak-anak tapi yang tua juga tidak mau kalah dapat menikmati
dibilang masa kecil kurang bahagia
atau ingin nostalgia
tidak masalah
yang penting asik, seru, nikmat
pikiran jadi segar...


Kamera Ir: Nikon d70
Lokasi: Dufan Ancol, Jakarta

Apa Kata Mereka....